Bentuk Bumi Ternyata Tidaklah Bulat Sempurna

Bumi adalah sebuah planet, tempat di mana manusia, hewan, dan tumbuhan bisa hidup karena memiliki air serta oksigen dan zat-zat lainnya yang dibutuhkan oleh makhluk hidup. Jika membahas Bumi, pembahasan seputar bentuknya memanglah sangat menarik. Planet Bumi adalah salah satu rahasia alam semesta dan masih dipelajari, termasuk banyaknya orang dan ilmuwan percaya bahwa planet yang kita tinggali ini berbentuk bulat sempurna seperti bola. Namun ternyata, bentuk Bumi tidaklah bola yang sempurna melainkan agak sedikit lonjong seperti telur. Lantas, kenapa bentuk Bumi tidak bulat sempurna?
Sebelum menjawab hal tersebut, mari ketahui terlebih dahulu puncak tertinggi di Bumi. Jika diukur dari pusat Bumi, puncak tertinggi dari planet kita ialah Gunung Chimborazo di Ekuador, bukan Gunung Everest yang dikenal sebagai gunung tertinggi di dunia. Dilansir dari Live Science, Minggu (3/4/2022) Gunung Chimborazo lebih unggul dalam hal ini karena planet Bumi sebenarnya sedikit terjepit di bagian kutubnya. Bila diibaratkan, seperti sebuah bola yang ditekan oleh dua tangan pada bagian atas dan bawahnya. Sehingga, khatulistiwa yang merupakan tempat Ekuador berada lebih menonjol. Alih-alih berbentuk bola yang bulat sempurna, bentuk Bumi adalah oblat yang berarti bentuknya seperti bola yang agak pipih dan lonjong seperti telur (pipih atas-bawah atau ‘penyek’). Akan tetapi, bentuk lonjong itu hanya sedikit yang artinya Bumi masih tampak bulat sempurna meski tidak disadari banyak orang. “Faktanya, kebanyakan planet dan Bulan tidak berwujud bola sejati. Mereka biasanya terjepit dalam sejumlah cara atau hal lainnya,” ujar ilmuwan planet di Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California, Amerika Serikat, James Tuttle Keane. Lalu apa yang membuat bentuk Bumi tidak bulat sempurna? Dia menambahkan penyebab Bumi, planet lain serta Bulan tidak bulat sempurna ialah adanya gaya sentrifugal atau gaya luar yang dialami oleh sebuah benda berputar. Sebuah planet yang berputar, kata dia, pasti mengalami gaya sentrifugal. Sederhananya, ketika Anda berputar di kursi atau di atas kaki maka akan merasakan adanya tarikan dari pusat tubuh. Hal ini mungkin akan menyebabkan lengan maupun kaki terkilir. “Atau, jika duduk di komidi putar, ada sedikit kekuatan ekstra yang bekerja pada Anda saat di komidi putar itu, sehingga Anda merasa ditarik ke samping,” terang Keane menggambarkan kenapa bentuk bumi tidak bulat sempurna. Lantaran planet dan Bulan berputar, gaya sentrifugal menyebabkan objek tersebut menonjol di ekuatornya. Efeknya dapat terlihat pada dua planet terbesar di Tata Surya yakni Jupiter dan Saturnus. Jika mengamati gambaran dari salah satu raksasa gas ini, Anda akan melihat bahwa keduanya sedikit terjepit sementara bagian tengahnya menonjol. Keane memaparkan bahwa bentuk terjepit planet-planet ini lebih terlihat, karena keduanya adalah planet yang berputar paling cepat di Tata Surya. Dijelaskannya, semakin cepat sesuatu berputar maka semakin besar gaya sentrifugal yang bekerja pada suatu objek. Contoh ekstrem gaya sentrifugal yang bekerja pada sebuah benda adalah planet kerdil bernama Haumea. Planet kerdil tersebut berada di Sabuk Kuiper yang merupakan wilayah objek es di luar orbit Neptunus – yang juga memiliki cincin seperti Saturnus, Jupiter, Uranus dan Neptunus. “Haumea seukuran Pluto, tetapi berputar sangat cepat, satu putaran penuh setiap empat jam, sehingga wujudnya hampir berbentuk seperti telur,” ucap Keane.

Planet Haumea, si Kerdil yang Berputar Sangat Cepat dan Bercincin.

Awal mula manusia mengetahui bentuk Bumi bulat seperti dilansir dari laman NASA, Rabu (4/10/2017) Manusia telah mengetahui bahwa Bumi berbentuk bulat selama lebih dari 2.000 tahun lalu. Pada saat itu, orang Yunani Kuno mengukur bayangan selama titik balik Matahari ketika musim panas, kemudian menghitung keliling Bumi. Mereka menggunakan posisi bintang serta konstelasi untuk memperkirakan jarak di Bumi. Orang Yunani Kuno bahkan bisa melihat bayangan bulat planet selama gerhana Bulan. Hingga kini, manusia masih bisa melihat bayangan bumi saat terjadi gerhana Bulan. Sementara di era modern saat ini, para ilmuwan menggunakan geodesi yaitu ilmu untuk mengukur bentuk, gravitasi, dan rotasi Bumi. Teknik geodesi itu memberikan pengukuran akurat yang menunjukkan bahwa bentuk Bumi bulat. Dengan menggunakan GPS serta satelit lainnya, ilmuwan dapat mengukur ukuran dan bentuk Bumi. Gambar dari luar angkasa juga menunjukkan planet Bumi berbentuk bulat seperti Bulan.
Bumi bukanlah bola. Bumi adalah spheroid oblate (bulatan penyek) dengan diameter di ekuator (katulistiwa) yang 43 km lebih besar daripada di kutub, menurut National Oceanic and Atmospheric Administration. Tonjolan di khatulistiwa ini disebabkan oleh gerakan berputar Bumi, seperti halnya adonan pizza yang berputar di udara menyebabkannya menjadi rata karena gaya sentrifugal. Gaya sentrifugal sangat nyata dalam bingkai non-inersia, dan bukan imajiner atau fiksi, tetapi hanya non-fundamental karena muncul dari gerakan berputar dari bingkai itu sendiri. Lebih jauh lagi, karena gunung, lautan, perbukitan, ngarai, dan lainnya, Bumi sebenarnya bukanlah sebuah spheroid oblate. Tetapi penyimpangan dari bentuk spheroid oblate yang sangat halus ini hanya 0,001% dari jari-jari bumi, sehingga bumi memiliki bentuk mendekati bulat yang sangat baik.

 

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.